Mbak Dina adalah tetangga sebelahku yang rajin, cantik, dan pernah
menjadi kembang desa di kampungku di pesisir utara Jawa Timur. Pagi hari
dia harus bangun. Setelah sholat subuh dia mesti menggoreng makanan
untuk dijual dan dititipkan ke warung-warung. Aku sering beli sebelum ke
sekolah untuk sarapan. Makanannya macam-macam ada pisang goreng,
ote-ote (seperti bakwan), tahu isi, tempe goreng, singkong goreng, ubi
goreng dan lontong. Makanan itu, suaminyalah Mas Tarjo yang mengantarkan
ke warung-warung.
Mas Tarjo adalah seorang tukang pandai besi. Badannya tegap tinggi,
berotot, dan berwajah ngganteng. Dia juga jadi incaran gadis-gadis di
kampungku. Maklumlah sesuai dengan pekerjaanya setiap hari, harus
menggembleng plat-plat baja besi untuk dijadikan berbagai barang.
Seperti kampak, cangkul, sabit, parang sampai pisau dapur. Petani dan
orang-orang di desaku pasti tahu, bahwa alat-alat yang dipakai dengan
cap matahari terbit dengan tulisan TARJO, pasti akan puas menggunakan
alat itu, karena dijamin kuat dan tidak mudah patah, karena terbuat dari
besi baja yang kwalitasnya baik.
Entah mengapa mbak Dina terbelit utang karena kebutuhan sehari-hari.
Dia pinjam ke rentenir Bu Kar, tetangga satu RT di kampungku. Mbak Har
hanya menangis dan minta maaf bahwa hari ini dagangannya tak habis
terjual dan penghasilan suaminya mengalami surut, karena pembayaran
dagangannya biasa satu bulan baru dibayar oleh pengecer di pasar. Mbak
Har hanya bisa menangis, dan berjanji akan membayar seminggu lagi. Bu
Kar dengan gaya rentenir yang berkuasa di kampung, seenaknya
mengata-ngatainya dengan kata-kata yang kasar. Dengan tabah keluarga Mas
Tarjo menerima kata-kata itu, dan sabar. Mungkin ini ujian dari Illahi.
***
Pukul 17.00 biasanya aku selesai memberi makan ayam
peliharaanku. Aku memelihara ayam sekitar 25 ekor. Semuanya ayam
petelur. Setiap sore atau pagi aku kumpulkan telur-telur itu. Kemudian
kalau sudah terkumpu, aku bawa ke warung untuk dijual. Hasilnya cukup
lumayan untuk biaya sekolah. Memang Pakdeku mengajari untuk
berwiraswasta, semenjak dini. Dan aku diberi modal untuk memelihara
ayam.
Entah kenapa hari itu aku masih betah di kandang ayam belakang rumah
pakde ku. Hanya dibatasi dengan pagar bambu belah dan pohon sawo,
kandang ayamku berbatasan dengan rumah mbak Har. Aku sering bertandang
ke rumahnya dan ngobrol dengan Mas Tarjo.
Menjelah maghrib, terjadi kegaduhan di rumah Mbak Dina. Suara orang
teriak ketakutan, dan suara genting pecah beberapa kali terdengar.
Orang-orang se RT sudah pada berkumpul di halaman rumah. Mereka juga
heran siapa yang melempari batu gunung sebesar kepalan orang dewasa.
Mereka membayangkan kalau batu itu mengenai kepala manusia, pasti bocor.
Namun anehnya batu itu hanya melempari barang-barang rumah tangga,
seperti piring, kaca dan genting.
Kejadian itu hanya sekitar setengah jam. Setelah itu tenang kembali.
Namun kerugian keluarga Mas Tarjo lumayan juga. Genting bolong, kaca
pecah dan piring di rak berantakan. Batu-batu dikumpulkan ada sekitar 15
buah. Hanya saja, siapa orang yang tega melempari rumah Mbak Har?
Paginya para pini sepuh, Pak RT, dan tetangga berdatangan karena
mendengar kabar rumah Mas Tarjo di”teror” orang. Tapi tak ada bukti yang
kuat siapa pelakunya. Warga semua membantu untuk menyelidiki kejadian
semalam. Mas Tarjo tak masuk kerja dan Mbak Har tak membuat makanan
gorengan. Berita itu menjadi buah bibir orang sekampung. Tak hanya
kampungku yang membicarakan masalah itu, namun kampung sebelah juga
berdatangan sekedar melihat rumah yang dilempari batu oleh “orang
misterius” yang belum tahu siapa pelakunya.
Rupanya tak hanya semalam itu saja, dan itu terus berlanjut hingga
hari hari berikutnya. Entah berapa genting yang sudah pecah, piring yang
hancur. Malah saat tamu makan bersama di ruang depan, tiba-tiba batu
sekepal tangan dilemparkan ke nasi yang masih mengepul.
Semakin berjubel orang menonton, karena berita ini rupanya sudah
tersebar ke kota pesisir ini. Mungkin juga sudah dimuat di surat kabar,
sehingga berita ini tersebar luas. Tak urung para “orang pintar”
dikerahkan untuk mengetahui siapa pelakunya. Penonton sudah menebak,
pasti pelakunya mahluk halus alias “gendruwo”.
Entah berapa orang sakti yang dikerahkan, tetapi kejadian terus
berlanjut setiap maghrib hingga sebelum isya’. Penonton semakin
berjubel, dan sebagian membantu meringankan derita Mas Tarjo dan
keluarga dengan sumbangan ala kadarnya.
Anak-anak muda yang iseng meneriakkan kata-kata memaki. “Hei jangan
jadi pengecut, tampakkan dirimu. Jangan menggangu orang susah,”
teriaknya. Apa balasannya. Lebih dari dua keranjang sawo dilemparkan ke
penonton. Dan orang-orang berlarian menyelamatkan diri, ke rumah
sebelah. Namun “si peneror” mengejarnya dengan melempar sawo dan batu ke
arah mereka, malah rumah Bu Ina kena sasaran, genting pecah. Sesepuh
dan para kiai menyarankan untuk tenang, jangan sampai merembet ke rumah
tetangga. Namun anehnya, serangan ini tidak mengenai seorangpun, hanya
samping kanan, kiri atau belakang orang. Namun orang juga takut, batu
sebesar itu tiba-tiba “bug..” di sisinya yang hanya berjarang kurang
dari 5 senti dengan kaki, siapa yang nggak ngeri, komentar beberapa
penonton.
Entah sudah berapa hari kejadian terus berlanjut. Akhirnya para
penonton melihat seorang “orang pintar” berkelahi, tapi tanpa musuh.
Mungkin hanya dia yang melihat, sedangkan masyarakat tua, muda yang
memadati halaman dan kebun rumah mbak Har hanya pak Kiailah yang nampak.
Bagaikan seorang penari silat Cimande yang memperagakan tarian indah
dari seni bela diri ala Jawa Barat itu.
Jungkir balik, bergumul di tanah di bawah pohon sawo. Terus dan terus
berkelahi di kegelapan malam, hanya ada sinar lampu petromak yang
dinyalakan. Perkelahian itu sesekali penonton dihujani buah sawo yang
masih muda, termaksa kami menjauh dari tontonan perkelahian itu. Mulai
perlahan gerakan pak Kiai, dan setelah pelan-pelan lantas dengan
cepatnya pak Kiai lari, seperti mengejar dan menjauh ke arah pahon
kluwih di sebelah barat kandang ayamku.
Kemudian Kiai yang masih muda itu datang, dengan peluh yang membasahi
sekujur tubuhnya. Dan dia berucap, “insyaallah tak mengganggu kita
lagi.” Kami semua hanya berucap, “amin.”
Dua minggu semenjak perkelahian itu, memang aman. Tak ada lagi
gangguan mahluk halus lagi di rumah keluarga Mas Tarjo. Pekerjaan
keluarga sederhana itu berjalan seperti biasa. Mbak Har dengan
gorengannya setiap hari semakin laris. Barang kerajinan besi Mas Tarjo
laku keras di pasar desa. Semua berubah, hasil yang didapat untuk
memperbaiki rumah yang hancur dan mengembalikan pinjaman pada Bu Kar.
Pagi hari setelah selesai pekerjaan menggoreng dan menitipkan barang
dagangan ke suaminya, Mbak Har beres-beres dapur dan siap mengantar
anaknya yang masih kelas satu SD yang jaraknya tak jauh dari tempat
tinggalnya. Sepulang mengantar anak sekolah, suaminya sudah ada di kamar
sedang tiduran. Mbak Har kaget.
“Kok sudah pulang mas, tumben”, tanya mbak Har singkat.
“Ya”
“Sudah mampir ke warung-warung, ambil dagangannya”
“Sudah” jawabnya singkat.
“Mana uangnya”, tanya mbak Har lagi.
“Belum”
“Belum gimana”, tanya mbak Har semakin marah.
“Nanti”.
“Nanti kapan Mas”, bentak mbak Har keras. Takut kalau “penyakit’
suaminya kambuh lagi, yaitu main judi kopyok, karena kejadian ini sudah
pernah terjadi beberapa tahun silam, sehingga dagangan mbak Har ludes
ludes untuk main, sehingga mencari pinjaman ke renternir.
Tiba-tiba suaminya mendekap dan minta dilayani dengan paksa. Mas
Tarjo cepat membuka baju mbak Har, seperti kesetanan. Namun karena Mbak
Har masih dongkol dengan kelakuannya, berusaha mempertahankan diri. Dan
terus melawan serta memukul suaminya denga guling, dan memukul
sejadi-jadinya, sambil menyebut nama Allah. ” Allahuakbar, kenapa jadi
begini, habis minum apa kamu ya?,” teriak mbak Har sekeras-kerasnya..
Pak Jono tetangga sebelah yang biasa menggembala kambing di lapangan,
mendengarkan teriakan itu. Tapi serasa aneh, Mbak Har yang jarang marah
tiba-tiba teriak. Pak Jono kemudian memanggil istrinya, untuk melihat
apa yang terjadi di rumah Mbak Har.
Mbak Har yang kalang kabut mengamuk, tak kalah galaknya dengan
suaminya itu tiba-tiba kaget bukan kepalang. Tiba-tiba suaminya itu
berubah wujud dan menakutkan, sekejap. Mbak Har teriak keras minta
tolong dan ingin lari, namun tak kesampaian. Suara hanya berhenti di
tenggorokan, dan larinyapun hanya jalan di tempat.
Setelah Pak Jono dan istrinya masuk ke kamar mbak Har yang hanya
disekat dengan dinding bambu serta penyekat kain, mereka berteriak
memangggil nama Mbak Har. Setelah ada suara itu, Mbak Har sadar dan bisa
keluar dari kamarnya, terus mendekap Bu Jono. Tapi masih belum bias
bicara.
“Ada apa Har?” kata Bu Jono.
Masih juga belum bisa bicara. Pak Jono mengambilkan air putih, dan
meminumkannya. Tak lama Mbak Har lemas dan masih ada rasa takut yang
luar biasa. “Nyebut Har, nyebut nama Allah,” kata Pak Jono
menasehatinya.
Akhirnya bisa bicara, dan beberapa tetangga yang juga mendengar
kejadian itu berdatangan. Mbak Har yang sudah biasa bicara namun masih
patah-patah, menceriterakan kejadian sebenarnya. Apa yang dialami baru
saja. Salah satu tetangga berinisiatif untuk menjemput suami Mbak Har.
Setengah jam kemudian datang Mas Tarjo dengan sepeda “lanangnya” –
sepeda khusus untuk lelaki.
Mbak Har menatap tajam suaminya, dari rambut, muka hingga kakinya.
Mas Tarjo juga aneh memandang istrinya seperti itu. Kemudian mbak Har
memanggil. “Mas, kamu Mas Tarjo beneran?”
“Ya, Har aku Tarjo, bapaknya Ranti,” jawab Mas Tarjo, karena di
sepanjang jalan dia sudah dapat ceritera dari Agus anak Pak Jono yang
menjemputnya.
Mbak Har, lantas menubruk suaminya, dia yakin ini suaminya yang asli.
Karena pertanyaannya juga tidak hanya satu kata, sorotan matanya tajam
tidak menakutkan dan membawa kedamaian. Dan suaminya membelai, rambut
panjang Mbak Har yang menangis terisak karena ketakutan.
Dengan wibawanya seorang kepala rumah tangga Mas Tarjo berkata,
“Sabarlah, ini cobaan dari Allah. Untunglah kamu segera ingat kepala
Sang Kholik, sehingga kamu terhindar dari perbuatan terkutuk dari syetan
yang menjelma menyerupai aku,” kata Mas Tarjo tersendu.
Kami tetangga juga ikut sedih, takut. Apalagi beberapa waktu lalu,
gendruwo itu lari ke pohon kluwih dan tinggal di pohon sawo dekat
rumahku.
Kejadian itu juga menyebar ke RT, lama kelamaan kampung dan kota.
Serta menghubungkan dengan kejadian rumah Mbak Har yang “dikrutuki”,
dilempari bebatuan dan buah sawo beberapa waktu lalu.
Pak Kiai yang berusaha mengusir mahluk halus datang lagi. Sebenarnya
dia sudah tahu dan melihat serta piaraan siapa atau suruhan siapa
“gendruwo” ini mengganggu rumah keluarga Tarjo. Namun dia tak mau
berprasangka buruk, atau jangan sampai orang yang memelihara dan
menyuruh itu, dihakimi masa karena merasa kesal dan telah menggangu
ketertiban, keamanan serta menimbulkan rasa takut masyarakat.
“Har…,” kata Pak Kiai lirih.
“Ya, Pak, ” jawab Mbak Har singkat.
“Hutang kamu sudah lunas?”
“Hutang apa Pak?”
“Itu, pinjaman ke Bu Kar,” tanya Pak Kiai lagi.
Mbak Har dan Mas Tarjo, tidak langsung menjawab, dari mana dia tahu
dan apa hubungannya dengan kejadiaan beberapa waktu lalu. Mbak Har
langsung menjawab tanpa ragu lagi, bathinnya mengatakan Pak Kiai orang
pintar, pasti tahu apa yang terjadi dan penyebabnya.
“Sudah Pak, lunas semua,” jawab Mbak Har mantap.
Lantas Pak Kiai yang juga memimpin sebuah pondok pesantren itu dengan
sabarnya menasehati keluarga Mas Tarjo. Bersabar dan tak usah dendam
dengan kejadian itu. Semuanya itu atas suruhan Bu Kar, dia peliharaan Bu
Kar. Tapi saat ini sudah meninggalkan rumahnya. Dan kembali ke asalnya,
yaitu tempat Bu Kar meminta pesugihan. Karena merasa tidak diperlakukan
dengan perjanjian yang telah disepakati saat-saat Bu Kar meminta
pesugihan itu, maka peliharaan sebelum pergi, berusaha mengganggu
kalian.
Mas Tarjo dan istrinya diam. Iman yang mulai tumbuh dalam hatinya
mengatakan, kesabaran dan memaafkan adalah perbuatan yang sangat
dicintai Allah. Maka nasehat Pak Kiai itu diterima dengan lapang dada.
Namun sepandai-pandainya menyimpan terasi, akan tercium juga.
Kejadian yang aneh muncul di desa itu, terutama keluarga Bu Kar. Malam
hari sekitar pukul 10 malam, rumah terbakar, dan menghanguskan seluruh
harta bendanya, hanya baju yang menempel dibadannya Bu Kar dan suaminya.
Karena anak mereka jauh di luar Jawa sana.
Setelah kejadian itu dan Bu Kar pindah ke luar Jawa, masyarakat
mengetahui, bahwa kejadian yang menimpa keluarga Mas Tarjo adalah ulah
Bu Kar.